Kemitraan SMART Ekselensia Indonesia Perkuat Jejaring Internasional SMART Ekselensia di Chulalongkorn University

Joko Susilo mengikuti program pelatihan internasional di Chulalongkorn University Bangkok

Bangkok, Thailand — Pengembangan kualitas sumber daya manusia tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Bagi lembaga pendidikan, memperluas wawasan melalui jejaring internasional menjadi bagian penting untuk membaca perubahan dan membuka peluang kolaborasi.

Hal tersebut dilakukan Joko Susilo, Koordinator Pengembangan Mutu SDM dan Kemitraan SMART Ekselensia Indonesia, melalui keikutsertaannya dalam program pelatihan internasional di Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand, pada 14–16 September 2026.

Joko mengikuti The Intensive Hybrid Course on the Prevention of Mass Atrocities & Human Rights Violations in the Context of Migration in ASEAN. Program tersebut mempertemukan peserta dari berbagai negara ASEAN untuk mempelajari isu migrasi, hak asasi manusia, serta pencegahan kekejaman massal dalam konteks kawasan.

Keikutsertaan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas perspektif mengenai isu-isu internasional yang bersinggungan dengan pendidikan, kemanusiaan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Selain mengikuti pelatihan, Joko memanfaatkan kesempatan di Bangkok untuk membuka komunikasi akademik dan profesional. Salah satunya melalui diskusi dengan Dr. Phansasiri Kularb, Asisten Profesor pada Departemen Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Chulalongkorn.

Pertemuan tersebut membuka akses terhadap informasi mengenai sejumlah peluang internasional, termasuk program pertukaran pelajar dan beasiswa yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan jejaring pendidikan

Joko juga menjalin komunikasi dengan PPI Chula (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Universitas Chulalongkorn) untuk menjajaki peluang kolaborasi jangka pendek.

Bagi SMART Ekselensia Indonesia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas SDM sekaligus memperluas jejaring kelembagaan di tingkat internasional.

Perjalanan tiga hari di Bangkok itu pada akhirnya tidak hanya menghasilkan sebuah sertifikat pelatihan. Ia juga membuka percakapan baru mengenai pengetahuan, pendidikan, kemitraan, dan peluang bagi generasi Indonesia untuk terhubung dengan dunia yang lebih luas.