BOGOR — Menjadi guru dan tenaga kependidikan bukan semata-mata tentang menjalankan tugas pendidikan. Di balik ruang kelas, kurikulum, dan rutinitas pekerjaan, terdapat tanggung jawab untuk menghadirkan keteladanan dalam sikap, adab, dan perilaku sehari-hari.
Pesan itulah yang menjadi napas dalam Kajian Bulanan Karyawan SMART Ekselensia Indonesia yang digelar di Masjid Al-Insani, SMART Ekselensia Indonesia, Jumat (18/9/2026).
Mengangkat tema “Menjadi Guru dan Tenaga Kependidikan yang Teladan”, kajian menghadirkan Ustaz H. Ahmad Fauzi Qasim sebagai pemateri. Kajian berfokus pada refleksi Muqoddimah Kitab Bidayatul Hidayah, salah satu karya Imam Al-Ghazali yang menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan menata kehidupan dengan ilmu serta adab.
Bagi para pendidik, refleksi semacam ini memiliki ruang yang penting. Sebab, pendidikan tidak berhenti pada proses menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik. Nilai-nilai yang diajarkan juga menuntut hadirnya contoh nyata dari orang-orang yang setiap hari berinteraksi langsung dengan mereka.

Kajian berlangsung dalam suasana penuh perhatian. Para karyawan mengikuti pemaparan dengan saksama, sementara sejumlah pesan dari Muqoddimah Bidayatul Hidayah menjadi bahan perenungan bersama tentang bagaimana ilmu seharusnya berbuah pada perubahan perilaku.
Pesan utama yang mengemuka adalah bahwa menuntut ilmu tidak cukup berhenti pada bertambahnya pengetahuan. Ilmu semestinya menjadi jalan untuk memperbaiki diri, membentuk adab, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, keteladanan bagi seorang guru dan tenaga kependidikan bukan sekadar atribut profesi. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: bagaimana seseorang menjaga sikap, menjalankan amanah, berinteraksi dengan orang lain, dan menempatkan ilmu sebagai sarana untuk terus melakukan perbaikan diri.
Kajian tersebut turut dihadiri Ustaz Zayd Sayfullah, Direktur SMART Ekselensia Indonesia; Ustaz M. Saepudin, Manajer POP SMART Ekselensia Indonesia; Ustazah Eka Kurniasih, Manajer Dikdasmen SMART Ekselensia Indonesia; serta jajaran kepala sekolah dan guru.
Kehadiran para pimpinan dan pendidik dalam forum yang sama memperlihatkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung bagi siswa. Para pendidik pun membutuhkan ruang untuk kembali belajar, merenung, dan memperbarui komitmen dalam menjalankan amanah pendidikan.
Di lingkungan sekolah yang menjadikan adab dan nilai keislaman sebagai bagian dari budaya pendidikan, kajian bulanan menjadi salah satu ruang untuk menyelaraskan kembali antara pengetahuan, tugas profesional, dan pembentukan karakter.
Pada akhirnya, keteladanan bukan sesuatu yang cukup disampaikan melalui nasihat. Ia perlu dihidupkan dalam keseharian—dilihat, dirasakan, dan kemudian ditiru.
Dari sanalah pendidikan menemukan maknanya yang lebih dalam: ilmu yang tidak hanya membuat seseorang mengetahui, tetapi juga mendorongnya menjadi pribadi yang lebih baik.