Menuntut Ilmu dengan Adab, SMART Ekselensia Bekali Siswa Boarding Nilai-Nilai Ta’lim Muta’allim

Siswa boarding SMART Ekselensia Indonesia mengikuti Stadium General Kitab Ta'lim Muta'allim tentang keutamaan adab terhadap guru dan ilmu pada 4 Agustus 2026

BOGOR — Kecerdasan dan kesungguhan belajar merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang pelajar. Namun, dalam tradisi keilmuan Islam, keduanya belum dianggap cukup tanpa adab. Ilmu yang dipelajari dengan penuh penghormatan kepada guru, ketawadhuan, dan keikhlasan diyakini memiliki nilai yang lebih dalam bagi kehidupan seorang penuntut ilmu.

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Stadium General Kitab Ta’lim Muta’allim yang diikuti siswa boarding SMART Ekselensia Indonesia pada Selasa (4/8) malam lalu selepas Isya. Mengangkat tema “Keutamaan Adab terhadap Guru dan Ilmu”, kajian tersebut menghadirkan Ustaz Zayd Sayfullah, Direktur SMART Ekselensia Indonesia, sebagai pemateri.

Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat. Para siswa mengikuti kajian bersama dengan membawa perhatian pada pembahasan mengenai hubungan antara adab, guru, dan ilmu—tiga hal yang sejak lama menjadi fondasi penting dalam tradisi pendidikan Islam.

Salah satu pesan utama yang ditekankan dalam kajian tersebut terangkum dalam ungkapan:

بالأدب تفهم العلم
Bil-adabi tufhamu al-‘ilm
“Dengan adab engkau difahamkan ilmu.”

Pesan itu mengingatkan para siswa bahwa proses menuntut ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dapat dikumpulkan, tetapi juga bagaimana seorang pelajar menempatkan ilmu dan orang yang mengajarkannya.

Dalam kajian tersebut, para siswa diajak memahami kembali kedudukan guru dalam perjalanan pendidikan. Menghormati guru, menjaga etika ketika belajar, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, serta memiliki sikap rendah hati merupakan bagian dari adab yang perlu dibangun sejak dini.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan siswa boarding. Berada dalam lingkungan pendidikan berasrama membuat proses pembelajaran berlangsung tidak hanya di ruang kelas, tetapi sepanjang aktivitas keseharian. Interaksi dengan guru, wali asrama, teman sebaya, dan lingkungan menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian.

Karena itu, pembinaan adab tidak cukup disampaikan sebagai teori. Ia perlu dihidupkan melalui kebiasaan dan keteladanan. Stadium General Ta’lim Muta’allim menjadi salah satu ruang bagi sekolah untuk mengajak siswa melakukan refleksi terhadap cara mereka belajar, bersikap kepada guru, serta memaknai ilmu yang sedang mereka perjuangkan.

Para siswa juga diajak meneladani tradisi para ulama dalam memuliakan ilmu. Kesungguhan dalam belajar perlu berjalan beriringan dengan sikap tawadhu’, kesabaran, penghormatan kepada guru, dan kesadaran bahwa ilmu pada akhirnya bukan sekadar untuk meningkatkan kapasitas pribadi, melainkan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.

Bagi SMART Ekselensia Indonesia, penguatan adab dan akhlak merupakan bagian integral dari pendidikan. Sekolah tidak hanya dituntut melahirkan peserta didik dengan capaian akademik yang baik, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter, integritas, dan kesadaran untuk menggunakan ilmu bagi kemaslahatan.

Melalui kajian kitab Ta’lim Muta’allim, para siswa diingatkan bahwa perjalanan menjadi manusia berilmu adalah perjalanan yang panjang. Ada kesungguhan yang harus dijaga, ada adab yang harus dirawat, dan ada ketawadhuan yang perlu terus ditumbuhkan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi bekal bagi para siswa dalam menapaki cita-cita sebagai Pemimpin Peradaban. Sebab, kepemimpinan yang kokoh tidak hanya membutuhkan kecakapan dan pengetahuan, tetapi juga karakter yang dibangun di atas adab.

Pada akhirnya, ilmu yang tinggi diharapkan tidak berhenti menjadi prestasi pribadi. Ia perlu menjelma menjadi kebijaksanaan, akhlak, dan kebermanfaatan bagi umat dan bangsa. Di titik itulah pendidikan menemukan makna terdalamnya: membentuk manusia yang berilmu sekaligus beradab.